EKSISTENSI BENTENG WABULA SEBAGAI BENTUK PERTAHANAN BERLAPIS KERAJAAN BUTON, SULAWESI TENGGARA

Authors

  • nfn Hasanuddin Balai Arkeologi Sulawesi Selatan
DOI     10.24832/wln.v12i1.224

Keywords:

Austronesia, gua, duni.

Abstract

This research is a methodological and theoretical application in the context of the fortress kingdom Wabula Buton. Wabula research coverage consists of two main components, namely building the fortren with several cultural components that are involved and the geographic position of Buton keletakannya is an island-shaped country with strategic location on the sea route connecting the producing islands in eastern spices. To strengthen the defense system in maintaining the sovereignty of the kingdom, then the Sultan of Buton built several fortresses scattered layered in some areas, one of whom Wabula castle. Position Wabula fortress overlooking the sea is the political strategy were taken into account, because the position on a hill overlooking the beach make the attackers participated in the defense through the region. 


Penelitian ini adalah aplikasi metodologis dan teoritis dalam konteks kerajaan benteng Wabula Buton. Cakupan penelitian Wabula terdiri dari dua komponen utama, yaitu membangun fortren dengan beberapa komponen budaya yang terlibat dan posisi geografis Buton keletakannya adalah negara berbentuk pulau dengan lokasi yang strategis di jalur laut yang menghubungkan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di timur. Untuk memperkuat sistem pertahanan dalam menjaga kedaulatan kerajaan, maka Sultan Buton membangun beberapa benteng yang tersebar di beberapa daerah, salah satunya benteng Wabula. Posisi benteng Wabula yang menghadap ke laut adalah strategi politik yang diperhitungkan, karena posisi di atas bukit yang menghadap ke pantai membuat para penyerang berpartisipasi dalam pertahanan melalui wilayah tersebut.


References

Elbert, Johannes, Dr. 1911 Sunda Expedition, Durch Die Landschaft Mekongga. Hal. 249 - 282.

Hardesty, D.L., 1977. Ecological Anthropol¬ogy. New York: Jhon Wiley and Sons.

Mundardjito 1993. "Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi Ruang Skala Makro". Disertasi, Fak.SastraU.I.

Ramelan, Wiwin Djuwita. 1989. "Beberapa Pendekatan Konseptual Antropologi Ekologi: Kemungkinan Penerapannya dalam Penelitian Arkeologi Ekologi" dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi V hal. 232-247.

Sarjiyanto. 1999. "Eksistensi Kerajaan Buton: Kajian Benteng-Benteng Masa Kesultanan". Walennae 1(3): hal. 97-101.

Sharer, Robert J and Ashmore, Wendy. 1979. Fundamentals of Archaeology. Cali¬fornia: The Benjamin.

Subroto, Ph. 1983. "Studi tentang Pola Pemukiman Arkeologi Kemungkinan-Kemungkinan Penerapannya di Indonesia" Pertemuan Ilmiah Arkeologi III, hal.1176-1186. Jakarta: Puslit Arkenas.

Tamburaka, H.Rustam E. 2005. Sejarah Sulawesi Tenggara dan 40 Tahun Sulawesi Tenggara Membangun. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Zuhdi, Susanto. 1997. "Buton: Sejarah Pulau-pulau yang Terabaikan dan Pulau-Pulau Sejarah yang Terabaikan", Makalah Seminar Sejarah Sosial Indonesia. Jakarta, 8-11 Desember 1997.

http://melayuonline.com "Sejarah dan Asal-Usul Kerajaan Buton. Diakses tanggal 25 April 2009.

How to Cite

Hasanuddin, nfn. EKSISTENSI BENTENG WABULA SEBAGAI BENTUK PERTAHANAN BERLAPIS KERAJAAN BUTON, SULAWESI TENGGARA. WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan Dan Tenggara, 12(1), 21–37. https://doi.org/10.24832/wln.v12i1.224

Issue

Section

Articles