TELAAH AWAL TEMUAN MERIAM KUNA DI SURABAYA

Authors

  • Danang Wahju Utomo Balai Arkeologi Sulawesi Selatan
DOI     10.24832/wln.v12i1.228

Keywords:

Kerajaan, keramik, tembikar, kuburan

Abstract

A cannon is any tubular piece of artillery that uses gunpowder or other usually explosive based propellants to launch a projectile. Cannon vary in caliber, range, mobility, rate of fire, angle of fire, and firepower; different forms of cannon combine and balance these attributes: varying degrees, depending on their intended use on the battlefield. The word cannon is derived from several languages, in which the original definition can usually be translated as tube, cane, or reed. In modern times, cannon has fallen out of common usage, usually replaced by "guns" or "artillery", if not a more specific term, such as "mortar" or "howit­zer". By the 1500s, cannon were made in a great variety of lengths and bore diameters, but the general rule was that the longer the barrel, the longer the range. Some cannon made during this time had barrels exceeding 10 ft (3.0 m) in length, and could weigh up to 20,000 pounds (9,100 kg). Consequently, large amounts of gunpowder were needed, to allow them to fire stone balls several hundred yards. 


Meriam adalah bagian dari tabung artileri yang menggunakan bubuk mesiu atau propelan berbasis bahan peledak lainnya untuk meluncurkan proyektil. Meriam bervariasi dalam kaliber, jangkauan, mobilitas, laju api, sudut api, dan daya tembak; berbagai bentuk meriam menggabungkan dan menyeimbangkan atribut-atribut ini: derajat yang berbeda-beda, tergantung pada tujuan penggunaannya di medan perang. Kata meriam berasal dari beberapa bahasa, di mana definisi aslinya biasanya dapat diterjemahkan sebagai tabung, tongkat, atau buluh. Di zaman modern, meriam telah jatuh dari penggunaan umum, biasanya digantikan oleh "senjata" atau "artileri", jika bukan istilah yang lebih spesifik, seperti "mortar" atau "howit¬zer". Pada tahun 1500-an, meriam dibuat dalam berbagai variasi panjang dan diameter lubang, tetapi aturan umumnya adalah semakin panjang laras, semakin panjang jaraknya. Beberapa meriam yang dibuat selama ini memiliki barel melebihi 10 kaki (3,0 m) panjangnya, dan bisa berbobot hingga 20.000 pound (9.100 kg). Akibatnya, dibutuhkan bubuk mesiu dalam jumlah besar, untuk memungkinkan mereka menembakkan bola batu beberapa ratus meter.

References

Crucq, K. C, 1938. "De geschiedenis van hetheilige kanon te Banten", TBG, LXXVIII: 359-391.

Kusmiati, Tjut Nyak, 1989. "Meriam Tanda Persahabatan Aceh dan Turki Abad 16 - 17", Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, ringkasan. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Poesponegoro, Marwati Joened dan Nugroho Notosusanto, 1988. Sejarah Nasional Indonesia III, edisi ke-4. Jakarta: PN. Balai Pustaka.

Purwono, Nanang, 2006. "Mana Soerabaia Koe, Mengais Butiran Mutiara Masa

Lalu. Surabaya: Pustaka Eureka.

Soekadri K., Heru, 1977. Dari Hujung Galuh ke Curabhaya (Menggali Tanggal Lahirnya Kota Surabaya). Surabaya: Jurusan Sejarah FKIS - IKIP.

Stutterheim, W. F., 1938. "De Archaeologische Verzameling", JBG V. Wahyono M, 1985. "Pecahan Meriam dari Laut Tuban (Jawa Timur)", Pertemuan Ilmiah Arkeologi III. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

How to Cite

Wahju Utomo, D. (1). TELAAH AWAL TEMUAN MERIAM KUNA DI SURABAYA. WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan Dan Tenggara, 12(1), 77-88. https://doi.org/10.24832/wln.v12i1.228

Issue

Section

Articles