ANCIENT SETTLEMENT INDICATIONS IN LUWU REGENCY, SOUTH SULAWESI

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Bernadeta Apriastuti Kuswarini Wardaninggar

Abstract

Tulisan ini bertujuan menjelaskan sejumlah data arkeologi, tradisi dan lingkungan okupasi manusia di Kabupaten Luwu. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei dan ekskavasi. Survei menjaring sejumlah data yang ditemukan di permukaan dengan menitikberatkan pada aspek bentuk dan jenis artefaktual (seperti gerabah, artefak batu, atau monumen megalitik). Dalam pelaksanaannya ditemukan empat situs terkonsentrasi di atas bukit, yaitu Bukit Lebani, Bukit Cakke Awo, Bukit Malela, dan Bukit Lebani. Kegiatan ekskavasi dilakukan di Bukit Lebani yang memiliki tingkat variabilitas cukup tinggi dibanding situs-situs yang lainnya. Hasil identifikasi temuan pada situs Bukit Lebani, terdapat tiga jenis
temuan yakni, batu berlubang, fragmen gerabah, dan lumpang batu. Batu berlubang ditemukan tersebar dan hampir merata di daerah-daerah datar di puncak bukit, digunakan sebagai tempat penampungan air untuk kebutuhan pemukim di atas bukit. Periode pertama dihuni oleh sekelompok manusia yang dipimpin oleh “kepala suku” bernama Pong Diwero sebelum abad ke-18 M. Pada periode berikutnya, yaitu awal abad ke-19 pemukiman terkonsentrasi di daerah lereng-lereng bukit. Pada periode ini puncak Bukit Lebani tetap menjadi sentrum bagi terlaksananya acara ritual/upacara oleh manusia pendukungnya. Data etnografi menjelaskan bahwa masyarakat yang bermukim di sekitarnya melakukan ritual di atas puncak Bukit Lebani setiap selesai musim panen.


The aim of this paper is to explain a number of archeological data, traditions and human occupational environments in Luwu Regency. The data collection methods consist of survey and excavation. The surveys carried out indicate a number of surface data, focusing on the shape and type aspects of artifacts (such as pottery, stone artefacts, or megalithic monuments). In the implementation we find four sites concentrated on the hill, named Bukit Lebani, Bukit Cakke Awo, Bukit Malela, and Bukit Balubu. Excavations are carried out at Bukit Lebani which has a high level of artifact variability compared to the other sites. The results of the artifacts identification of Bukit Lebani site have determined three types of artifacts known as hollow stones, pottery fragments, and stone mortars. Hollow stone is found scattered and almost distributed evenly in flat areas on the hilltop, used as a water reservoir for the needs of settlers on the hill. According to local oral tradition, Bukit Lebani is inhabited by a group of people led by a "tribal chief" named Pong Diwero before the 18th century. In the following century, settlements are concentrated on hillsides. In this period, the peak of Bukit Lebani remains as a center for the implementation of rituals / ceremonies. Ethnographic data explain that the people who live around the sites perform rituals at the top of Bukit Lebani after harvest season is through.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

References

  1. Ahimsa-Putra, H. S. (1997). Arkeologi Pemukiman: Asal Mula dan Perkembangannya. Jurnal
  2. Humaniora, 5(5). Retrieved from http://id.portalgaruda.org/?ref=browse&mod=viewarticle&article=93512
  3. BPS. (2018). Kabupaten Luwu Dalam Angka. Retrieved from Badan Pusat Statistik Kabupaten
  4. Luwu website: https://luwukab.bps.go.id
  5. Bulbeck, D., & Caldwell, I. (2000). Land of Iron: the historical archaeology of Luwu and Cenrana valley (Oxis). The Centre for South-East Asian Studies, The University of Hull.
  6. Fakhri. (2016). Situs Rampi: Masa Persebaran Arca Menhir dan Hubungannya dengan Wilayah Situs Terdekat. Walennae, 14(1), 23–36. https://doi.org/10.24832/wln.v14i1.38
  7. Iwan Sumantri. (2006). Kedatuan Luwu; Prespektif Arkeologi, Sejarah, dan Antropologi (I. Sumantri, Ed.). Makassar: Pemerintah Daerah Luwu Timur dan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.
  8. Mcfadyen, L. (2006). Building technologies, quick and slow architectures and early Neolithic long barrow sites in southern Britain. Archaeological Review from Cambridge, 21, 70–81.
  9. Simanjuntak, T. (2015). Progres penelitian austronesia di nusantara. Amerta, 33, No. 1, 25–44.
  10. https://doi.org/10.24832/amt.v33i1.211
  11. Sulaiman, S. (2017). Dinamika Politik dalam Proses Pembentukan Kabupaten Luwu Tengah.
  12. The Politics: Jurnal Magister Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, 3(2). Retrieved from http://journal.unhas.ac.id/index.php/politics/article/view/5731
  13. Wardaninggar, B. A. K. (2018). Situs-situs Megalitik di Kabupaten Bone: Kajian Sebaran dan Kronologi. Walennae, 16(2), 119–134. https://doi.org/10.24832/wln.v16i2.347
  14. Yuniawati, D. Y. (2014). Laporan Penelitian Arkeologi potensi peradaban budaya megalitik di Lembah Rampi, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Jakarta.