PRESERVING OF ANCIENT TOMB SITES IN MAROS BASED ON LOCAL TRADITIONS

##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Makmur

Abstract

Makam kuno merupakan jejak budaya materil sebagai penanda hadirnya Islam di tengah masyarakat, sehingga penelitian ini bertujuan mengetahui nilai penting situs makam Islam, baik dari aspek makam Islam sebagai hasil produk kebudayaan masa lampau, maupun situs makam dari persektif masyarakat, serta memberikan gambaran secara komprehensip tentang perilaku masyarakat Maros dalam melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan situs makam Islam berdasarkan tradisi masyarakat. Metode penelitian yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan strategi perpaduan (mixed methods) antara metode arkeologi untuk melihat makam Islam sebagai hasil produk material kebudayaan, sedangkan perilaku masyarakat dalam berinterkasi dengan situs makam kuno menggunakan metode antropologi yaitu etnografi berorientasi pada topik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa hadirnya berbagai tradisi masyarakat seperti tradisi lisan tentang cerita kesaktian tokoh-tokoh leluhur masyarakat pada masa lampau, telah menggerakkan masyarakat untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi yang terkait dengan makam kuno seperti tradisi ziarah di hari-hari kebesaran Islam, ziarah songka bala (tolak bala), ziarah pengharapan, tradisi appanaung, tradisi a’dengka ase lolo (menumpuk padi di lesung atau pesta panen), tradisi mappalanca (adu betis). Tradisi-tradisi tersebut sangat fungsional untuk dijadikan sebagai suatu sistem pelestarian makam kuno berbasis masyarakat.


Ancient tomb is the product of Islamic culture in Maros. With that in mind, this study aims to find out important values behind the existence of tombs and how the local communities perceive living among those tombs. This is a qualitative descriptive research, incorporating archeological method and topicoriented etnoghraphy. The former is intended to dig deeper into understanding Islamic tombs as the product of material culture; while the latter is projected to see how the local people perceive the existencence of those tombs. The study indictes that the oral tradition of telling the heroic and supernatural aspects on the people buried in the tombs has moved them to make pilgrimage with various intentions: withstanding destrcuctive power, getting blessings, exercising appanaung tradition, and expressing gratitude after harvest season. There is also that traditional practice done in relation to tomb pilgrimage: calves contest, making it an integral part of preservation system of culturel heritage of Islam.

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

References

  1. Ambary, H. M. (1998). Menemukan Peradaban Jejak Arkeologi dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
  2. Barthes, R. (2003). Mitologis (Terjemahan). Bandung: Dian Aksara Press.
  3. Duli, A., Nur, M., & Rosmawati. (2013). Aspek-Aspek Arkeologi Islam Maros. Maros: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Maros.
  4. Hasanuddin. (2015). Kebudayaan Megalitik di Sulawesi Selatan dan Hubungannya dengan Asia Tenggara. Universiti Sains Malaysia.
  5. Hasanuddin. (2016). Nilai-Nilai Sosial Dan Religi Dalam Tradisi Megalitik Di Sulawesi Selatan. Kapata Arkeologi, 12(2), 191–198. https://doi.org/10.24832/kapata.v12i2.313
  6. Hasim, M. (2017). Bentuk Ragam Hias Makam pada Kompleks Makam Karaeng Simbang Kabupaten Maros. Universitas Hasanuddin.
  7. Hestiyana. (2015). Fungsi Tradisi Lisan Susurungan Bagi Masyarakat Banjar Hulu. Mabasan, 9(2), 87–98. https://doi.org/10.26499/mab.v9i2.161
  8. Hoeningman, J. (1973). Handbook Of Social and Cultural Anthropology. Chicago: Rand McNally College Publishing Company.
  9. Kaplan, D., & Manner, R. A. (1999). Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
  10. Koenjaraningrat. (1997). Pengantar Antropologi II. Jakarta: Rineka Cipta.
  11. Koenjaraningrat. (2011). Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.
  12. Muhaeminah, & Makmur. (2015). Masa Awal Hingga Berkembangan Kerajaan Ajatappareng (Abad 14 -18). Purbawidya, 4(2), 125–136. Retrieved from https://purbawidya.kemdikbud.go.id/index.php/jurnal/article/view/P4%282%292015-5
  13. Mujianto. (2016). Pendekatan Fungsional-Struktural dalam Adat Pernikahan Sunda. Jurnal Lingustik Terapan (JLT), 6(1), 37–46. Retrieved from https://jlt-polinema.org/?page_id=874
  14. Mulyadi, Y., & Nur, M. (2017). Ragam Hias pada Makam di Komplek Mesjid Makam Turikale di Maros Sulawesi Selatan. Kalpataru, 26(1), 27–36. https://doi.org/10.24832/kpt.v26i1.222
  15. Navis, A. (1984). Alam Terkembang Jadi Guru?: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Press.
  16. Pelras, C. (2006). Manusia Bugis (Terjemahan; Abdul Rahman Abu, Hasriadi, & N. Sirimorok, Eds.). Jakarta: Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris, EFEO.
  17. Sabrani, R. (2015). Pendekatan Antropololinguistik Terhadap Kajian Tradisi Lisan. Retorika, 1(1), 1–17. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.22225/jr.1.1.9.1-17
  18. Spradley, J. (2006). Metode Etonografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
  19. Sulasman, & Gumilar, S. (2013). Teori-Teori Kebudayaan. Bandung: Pustaka Setia.
  20. Tisnasari, & Supena, A. (2013). Tradisi Lisan Ziarah Kubur Eyang Dalem Cikundul Di Kabupaten Cianjur (Sebuah Kajian Bentuk Fungsi dan Makna Folklor Pada Cerita Rakyat). In Tisnasari & A. Supena (Eds.), Folklor dan Folklife Dalam Kehidupan Dunia Modern (pp. 160–168). Yogyakarta: Ombak
  21. Tylor, E. (1874). Primitive Culture?: Researches Into The Development Of Mythology, Philosophy. Religion, Language, Art and Custum (Jilid I &). Buston: Estes & Lauriat.