THE IMPLEMENTATION OF MANASARA-SILPASASTRA AS A FACTOR IN THE SELECTION OF THE POSITION OF PETIRTAAN DEREKAN IN THE COMPLEX OF NGEMPON TEMPLE, SEMARANG, CENTRAL JAVA

Authors

  • Abednego Andhana Prakosajaya Gadjah Mada University
  • Hot Marangkup Tumpal Sianipar Universitas Gadjah Mada
  • Rizal Hendra Pratama Gadjah Mada University
DOI     10.24832/wln.v19i1.424

Keywords:

Petirtaan, Ngempon Temple, Layout

Abstract

Terdapat beberapa petirtaan di Jawa Tengah yang merupakan bagian integral dari sebuah candi. Fenomena ini dapat dilihat pada tata ruang Candi Ngempon yang terletak tidak jauh dari Petirtaan Derekan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kitab Manasara-Silpasastra yang memengaruhi tata letak petirtaan dengan suatu candi sebagai satu bagian integral. Penelitian ini dilakukan dengan analisis data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara. Data sekunder tersebut kemudian menjadi dasar dilakukannya crosscheck dengan melakukan pengamatan lapangan. Dari metode tersebut diperoleh kesimpulan bahwa tata ruang Pechaka dalam Manasara[1]Silpasastra diduga menjadi dasar pemilihan letak Candi Ngempon yang berada di sisi timur laut Petirtaan Derekan sehingga menunjukan adanya penerapan kitab Manasara-Silpasastra dalam kasus ini

 

There are several petirtaans or bathing structures in Central Java that become an integral part of a temple complex. Such a phenomenon can be seen in the layout of Ngempon Temple and Petirtaan Derekan which are located close to each other. This research aims to analyze the implementation of the book of Manasara-Silpasastra in the layout of Petirtaan Derekan and Ngempon Temple as an integrated whole. The research was carried out by analyzing secondary data obtained from a literature review and interviews. The secondary data were corroborated with data obtained from field observations. Results of the analysis indicate that the layout of Pechaka in Manasara-Silpasastra might become the basis for the positioning of Ngempon Temple at the northeast of Petirtaan Derekan. This shows that the book of Manasara-Silpasastra might be implemented in the layout of the complex of Ngempon temple.

Author Biography

Hot Marangkup Tumpal Sianipar, Universitas Gadjah Mada

Mahasiswa S1 Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

References

Acharya, P. K. (1934a). Architecture of Manasara. New Delhi: Munshiram Manoharial.

Acharya, P. K. (1934b). Indian Architecture According to Manasara-Silpasastra. New Delhi: Oriental Books Reprint Corporation.

Balai Arkeologi Yogyakarta. (2017). Laporan Peninjauan Arkeologi 2017: Temuan Baru di Kabupaten dan Kota Semarang serta Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah. Yogyakarta. Tidak Diterbitkan.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. (2009). Laporan Termin 1 Pelestarian Dua Candi Perwara Kompleks Candi Ngempon, Semarang. Semarang. Tidak Diterbitkan.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah. (2014). Laporan Konservasi Candi Ngempon, Kabupaten Semarang. Semarang. Tidak Diterbitkan.

Degroot, V. (2008). Ancient Bathing Places of Central Java: A Short Survey. Aziatische Kunst, 38(4), 62–68. https://doi.org/https://doi.org/10.1163/25431749-90000159.

Harriyadi. (2019). Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kompleks Candi Dieng. Amerta, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 37(2), 123–138. https://doi.org/https://doi.org/10.24832/amt.v37i2.123-138.

Hidayah, N., Suryasari, N., & Antariksa. (2016). Proporsi Bentuk Candi Angka Tahun dan Candi Sawentar di Blitar Jawa Timur. Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur, 4(4).

Indradjaja, A. (2000). Proporsi Tinggi Dan Lebar Pintu Masuk Candi Gebang. AMERTA, 20(1), 59–75. https://doi.org/https://doi.org/10.24832/amt.v20i1.

Krishnamurthy. (1996). Water in Ancient India. Indian Journal of History of Science, 31(4), 327–337.

Munandar, A. A. (2015). Keistimewaan Candi-candi Zaman Majapahit. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.

Mundarjito. (1993). "Pertimbangan Ekologi dalam Penempatan Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Yogyakarta: Kajian Arkeologi-Ruang Skala Makro". Disertasi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Nareswara. (1993). "Pengertian dan Fungsi Petirtaan pada Masa Klasik di Jawa". Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Rahardian, P. H., & Fery, W. C. (2015). "Kajian Arsitektur Percandian Petirtaan di Jawa (Identifikasi)". Laporan Penelitian. Bandung: Universitas Parahyangan.

Ramelan, W. D. S. dkk. (2013). Candi Indonesia Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

Santiko, H. (2012). Candi Panataran: Candi Kerajaan Masa Majapahit. Kalpataru, 21(1), 20–29. https://doi.org/https://doi.org/10.24832/kpt.v21i1.103.

Singh, R. P. B. (1994). Water Symbolism and Sacred Landscape in Hinduism: A Study of Benares (Varanasi). Erdkunde, 4(3), 210–227. https://www.jstor.org/stable/25646594.

Sudaryati, N. L. G., & Adnyana, I M. D. M. (2018). Pemanfaatan dan Makna Air dalam Veda. VIDYA WERTTA: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia, 1(2), 107–116. https://doi.org/10.32795/vw.v1i2.194.

Sumerata, I. W. (2013). Petirtaan Kuno di Banjar Bunyuh, Desa Perean. Forum Arkeologi, 26(3), 217–224. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24832/fa.v26i3.46.

Zoetmulder, P. J. (1994). Kamus Jawa - Kuno Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Zulaikah, S. (2020). "Identifikasi Daerah Rawan Bencana Tanah Longsor Kabupaten Semarang Menggunakan Sistem Informasi Geografis Tahun 2019". Tugas Akhir Prodi D3. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Published

2021-06-29

How to Cite

Prakosajaya, A. A., Sianipar, H. M. T., & Pratama, R. H. (2021). THE IMPLEMENTATION OF MANASARA-SILPASASTRA AS A FACTOR IN THE SELECTION OF THE POSITION OF PETIRTAAN DEREKAN IN THE COMPLEX OF NGEMPON TEMPLE, SEMARANG, CENTRAL JAVA. WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan Dan Tenggara, 19(1), 47–58. https://doi.org/10.24832/wln.v19i1.424

Issue

Section

Articles