WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae <p>In 2017, Journal WalennaE began online publishing by Open Journal System (OJS) at: <a href="https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae" target="_blank" rel="noopener">http://walennae.kemdikbud.go.id</a>. In the same year, accredited at Sinta level 2 with number: <a href="https://drive.google.com/open?id=1cT5anB3o-X-fcC5uyhSqYQ8PSb0Xapwi" target="_blank" rel="noopener">10/E/KPT/2019</a> by the Ministry of Research, Technology and Higher Education (RISTEKDIKTI) of the Republic of Indonesia.<br />We accept and publish research articles from scientists, academics, students and even the general public to be assessed by competent, credible and expert reviewers in the archaeology and cultural studies.</p> <p><strong><a href="http://sinta2.ristekdikti.go.id/journals/detail?id=4004" target="_blank" rel="noopener"><img src="https://walennae.kemdikbud.go.id/public/site/images/hasan/sinta-s2.png" alt="" width="228" height="64" /> </a> </strong></p> en-US <p>Penulis yang naskahnya diterbitkan menyetujui ketentuan sebagai berikut:</p><ol><li>Hak publikasi atas semua materi naskah jurnal yang diterbitkan/dipublikasikan dalam situs E-Journal Walennae ini dipegang oleh dewan redaksi dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap milik penulis naskah).</li><li>Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons <strong><em>Attribution-NonCommercial-ShareAlike</em></strong> (<a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" target="_blank">CC BY-NC-SA</a>), yang berarti Jurnal Walennae tidak memiliki tujuan komersial, berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.</li><li>Naskah yang diterbitkan/dipublikasikan secara cetak dan elektronik bersifat <a href="http://www.budapestopenaccessinitiative.org/" target="_blank">open access</a> untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Selain tujuan tersebut, dewan redaksi tidak bertanggung jawab atas pelanggaran terhadap hukum hak cipta.</li></ol><div> </div><div><p>The Authors whose manuscript are published as detailed as follows:</p><ol><li>The publication rights of all Journal manuscript that published in the Walennae E-Journal website are held by the editorial board with the author's acknowledgement. </li><li>Formal legal provisions for accessing digital articles of electronic journals in the decision of the Creative Commons <strong>Attribution-NonCommercial-ShareAlike</strong> (<a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" target="_blank">CC BY-NC-SA</a>) license, which means Walennae Journal has no commercial purpose, has the right to save, transfer media / format, manage in the form of databases, caring for, and publishing articles without asking permission from the Author as long as it keeps the name of the Author as the Copyright owner.</li><li>Manuscripts published by printed and electronically <a href="http://www.budapestopenaccessinitiative.org/" target="_blank">open access</a> for educational, research and library purposes. In addition, the editorial board is not responsible for copyright infringement</li></ol></div> fakhri@kemdikbud.go.id (Fakhri, SS) hasan.sds@kemdikbud.go.id (Hasan, S.Ds) Fri, 25 Nov 2022 08:59:58 +0000 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 IDENTIFICATION OF FAUNAL FOSSIL FINDINGS FROM TANJUNGAN VILLAGE, KEMLAGI DISTRICT, MOJOKERTO REGENCY https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/710 <p>Mojokerto is one of the important areas for paleoanthropological-archaeological studies in Indonesia. In the Mojokerto area, specifically in Perning Village, Homo erectus fossils were found, as well as vertebrate fauna fossils. In another area, namely in Sumberdadi Hamlet, Sumbersari Village, Dawar Blandong District, vertebrate fauna fossils were also found. In addition to these two areas, vertebrate fossils are also known to be found in Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto Regency. The purpose of this study is to identify the findings of fauna fossils from Tanjungan Village, Kemlagi District, Mojokerto, and then describe the habitat of the types of fauna fossils remains. The identification of the findings is based on the morphological characteristics seen in the fossil fragments. Five fauna species were obtained from the identification results, namely Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, and Potamididae. These results provide an overview of the ancient environment of Tanjungan Village, in the forms of an original marine environment, a brackish-water environment, and ultimately a continental environment.</p> <p> </p> <p><em>Mojokerto adalah salah satu wilayah penting untuk studi paleoantropologi-arkeologi di Indonesia. Di wilayah Mojokerto, tepatnya di Desa Perning, ditemukan fosil Homo erectus, selain juga fosil fauna vertebrata. Di area lain, yaitu di Dusun Sumberdadi, Desa Sumbersari, Kecamatan Dawar Blandong juga ditemukan fosil fauna vertebrata. Selain dua area tersebut, fosil vertebrata juga diketahui ditemukan di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi temuan fosil fauna dari Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Mojokerto, dan kemudian mendeskripsikan habitat dari jenis temuan fosil fauna tersebut. Identifikasi temuan didasarkan pada ciri morfologis yang tampak pada fragmen fosilnya. Hasil identifikasi memperoleh lima jenis fauna, yaitu Bovidae, Stegodon sp., Carcharhinidae, Ostreidae, dan Potamididae. Hasil tersebut tersebut memberikan gambaran lingkungan purba Desa Tanjungan berupa lingkungan laut, lingkungan air payau, dan lingkungan darat.</em></p> Firdaus Dimitra Arsyrahman, Delta Bayu Murti, Toetik Koesbardiati Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/710 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000 NISAN KHAS BUGIS BONE: PERTEMUAN BUDAYA LOKAL DENGAN AGAMA ISLAM https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/713 <p><em>Tombstone as a grave sign in acculturation between Islam dan Bugis Ethnic, is not only function as grave sign, but is also a medium for expressing culture. This research was carried out in Kabupaten Bone in 2021 with the aim of Bugis’ tombstone and cross-cultural on aspects of tombstone remains, in order to strengthen the value of diversity and pluralism of the Nation. The method used is qualitative research with the primary data source, namely archaeological data of ancient tombs. Archaeological data collection techniques are carried out by field surveys, which include the process of observing, classifying, describing in detail, measuring and shooting the findings in the form of Islamic tomb buildings. The results of the study found that the flattened tombstones typical of Bone which are conical / tapered consist of various shapes, there are mountains, trees, swords, and spearheads. The successful penetration of Islam was able to divert various local rituals and traditions into the Islamic burial system. Islam did not immediately blame various animistic practices and dynamism on the local Bugis Bone community, but was gently transferred in the form of a symbol system on the tombstones.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p><em>Nisan sebagai tanda kubur dalam Islam pada saat bertemu dengan etnis Bugis, tidak hanya sebatas sebagai tanda kubur, tetapi juga merupakan media untuk mengekspresikan kebudayaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone pada Tahun 2021 dengan tujuan untuk menemukan nisan khas Bugis dan silang budaya pada aspek tinggalan batu nisan, guna memperkukuh nilai kebinekaan dan pluralisme Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data primer yang digunakan yakni data arkeologi berupa nisan kuno. Teknik pengumpulan data arkeologi dilakukan dengan survei lapangan, yang didalamnya meliputi proses pengamatan, pengklasifikasian, pengambaran secara detail, pengukuran dan proses pemotretan temuan berupa bangunan makam Islam. Hasil penelitian menemukan bahwa nisan tipe pipih khas Bone yang berbentuk mengerucut/meruncing terdiri atas berbagai variasi bentuk, ada yang berupa gunung, pohon, pedang dan mata tombak. Keberhasilan penetrasi agama Islam mampu mengalihkan berbagai ritual dan tradisi lokal ke dalam sistem pemakaman Islam. Islam hadir tidak langsung menghilangkan berbagai praktek animisme dan dinamisme pada masyarakat lokal Bugis Bone, tetapi secara lembut dialihkan dalam bentuk sistem simbol pada nisan-nisan.</em></p> Makmur, Nurul Adliyah Purnamasari, Hasanuddin, Muhammad Ramli, Muhlis Hadrawi, Bernadeta Apriastuti Kuswarini Wardaninggar, Ade Sahroni Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/713 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000 IDENTIFICATION AND LATEST INTERPRETATION OF HUMAN REMAINS IN LEANG JARIE SITE (LJ-1), MAROS, SOUTH SULAWESI https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/715 <p><em>This article aims to provide further interpretation of human skeleton from the Leang Jarie site (LJ-1), Maros, South Sulawesi. The context of this human skeleton comes from Neolithic period that associate with bone remains, faunal bones artefacts, lithic artefact, mollusk shells, pottery and ochre. Anatomical description, analysis and interpretation of individuals are a priority for comparisons with previous explorations. The updated biological aspects are based on sex, age at death, estimated height and the affiliation the of the individual. The method used physical anthropology and bioarchaeology to obtain more detailed observations of the osteology and biological aspects of the LJ-1 skeleton. The size of the LJ-1 mandible was compared with the average size of other modern humans in the Southeast Asian Archipelago and the Pacific region. The results show some changes to the initial distinctions that had been made. The individual’s height was between 157–166 cm, and he was a male with the estimated age at death of 30–49 years. Also relevant to the individual’s affiliation, the extant mandibular sockets reveal loss of the teeth before death (alveoloclasia). It is concluded that the LJ-1 individual belonged to a Neolithic society whose subsistence economy was characterized by the consumption of carbohydrates.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p><em>Artikel ini bertujuan memberikan interpretasi lanjutan terhadap rangka manusia dari situs Leang Jarie (LJ-1), Maros, Sulawesi Selatan. Konteks temuan rangka berasal dari masa Neolitik dengan asosiasi temuan berupa tulang sisa makanan, artefak tulang fauna, artefak batu, cangkang moluska, tembikar dan oker. Deskripsi anatomis, analisis dan interpretasi individu menjadi prioritas pembahasan dibandingkan penelitian identifikasi sebelumnya. Aspek biologis yang terbarukan antara lain peninjauan terhadap penentuan jenis kelamin, usia kematian, estimasi tinggi badan dan afiliasi individu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan osteologi dan aspek biologis temuan rangka LJ-1 secara detail dengan pendekatan antropologi ragawi dan bioarkeologi. Untuk ukuran mandibula LJ-1, dilakukan perbandingan dengan ukuran rata-rata mandibula manusia modern di kepulauan Asia Tenggara dan Wilayah Pasifik. Hasil identifikasi menunjukkan beberapa perbedaan dibandingkan dengan identifikasi awal yang telah dilakukan. Ukuran tinggi individu yaitu antara 157– 166 cm, berjenis kelamin laki-laki dengan estimasi kematian pada usia 30 – 49 tahun. Berhubungan dengan kondisi patologis LJ-1, soket mandibula yang tersisa menunjukkan hilangnya gigi sebelum kematian (alveoloklasia). Demikian juga disimpulkan bahwa LJ-1 adalah bagian dari masyarakat Neolitik yang ekonomi subsistensinya ditandai dengan pengkonsumsian kaya karbohidrat.</em></p> Fakhri, Delta Bayu Murti, David Bulbeck, Budianto Hakim, Khadijah Thahir Muda Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/715 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000 OVERVIEW OF PREHISTORIC CAVE SETTLEMENT CULTURE IN THE REMBANG-MADURA ZONE https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/721 <p><em>The Rembang-Madura Karst Zone which extends eastward from Pati to Sakalan Island has several cave settlements sites. Based on previous </em><em>research</em><em>, this paper aims to provide an overview of their culture and location. This study uses a descriptive method of analysis to summarize and interpret data obtained from previous research. Through this review, it can be seen that based on the cultural character and location of its sites, the Rembang-Madura Karst Zone can be divided into four segments, namely the west, central, east, and archipelago. The technological trends of each of these segments show differences, but the causative factors cannot be known for sure. Environmental factors are likely to be one of the triggers for the occurrence of that discrepancy. Chronologically, the cave dwellings that developed in this zone were the oldest at 9,500 BP and the youngest at 900 BP. </em></p> <p> </p> <p> </p> <p><em>Karst Zona Rembang-Madura yang membujur dari Kabupaten Pati memanjang ke timur hingga Pulau Sakalan memiliki beberapa situs hunian gua. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan tinjauan mengenai budaya dan lokasi hunian gua prasejarah yang berada di kawasan Zona Rembang-Madura. Kajian ini menggunakan metode deskriptif analisis menggunakan data yang diperoleh dari referensi hasil penelitian yang telah dilakukan di kawasan ini. Melalui tinjauan ini dapat diketahui bahwa berdasarkan karakter budaya dan lokasi situs-situsnya, Zona Rembang-Madura dapat dibagi menjadi empat segmen, yaitu sisi barat, tengah, timur, dan kepulauan. Trend teknologi masing-masing segmen ini menunjukkan perbedaan, akan tetapi faktor penyebabnya belum dapat diketahui pasti. Faktor lingkungan kemungkinan adalah salah satu pemicu terjadinya perbedaan itu. Secara kronologis, hunian gua yang berkembang di zona ini paling tua terjadi pada kurun 9.500 BP dan paling muda pada 900 BP.</em></p> Hari Wibowo, Alifah Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/721 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000 ROCK ART AT WITA TERESA CAVE, PADALERE UTAMA VILLAGE, WIWIRANO, NORTH KONAWE https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/718 <p><em>The Wita Teresa cave site is one of caves that have a lot of rock art images. The site is on the Padalere village the main district of Wiwirano District of North Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. The research was to identify images and typology of images on the Wita Teresa cave. Then, the methods in thesse study are used collection of data, recording of data, and data processing that use image software to enhance image by image and to use of CorrelDraw X7 software to reproduce the picture. Studies have shown that the Wita Teresa cave site has 15 panels with the number of images found in it as 125. The rock image in the Wita Terea Cave consists of 7 basic motifs. Of the 7 basic motifs, there are 21 types of the image.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p><em>Situs Gua Wita Teresa merupakan salah satu gua yang memiliki gambar cadas. Situs tersebut berada di Desa Padalere Utama Kecamatan Wiwirano Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk dan mengidentifiasi motif gambar dan tipologi gambar cadas yang ada di Situs Gua Wita Teresa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data, perekaman data serta pengolahan data yang menggunaan Software ImagJ untuk mengangkat gambar lebih jelas dan menggunakan Software CorelDraw X7 untuk mereprodusi gambar. Hasil penelitian yang dilakukan bahwa Situs Gua Wita Teresa memiliki 15 panel dengan jumlah gambar yang telah ditemukan yaitu 125 gambar. Gambar Cadas di Gua Wita Teresa terdiri dari tujuh motif dasar. Dari tujuh motif dasar tersebut didapatkan gambar sebanyak 21 tipologi.</em></p> Sandy Suseno, Syahrun, Muhammad Aprisal Oka Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/718 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000 THE SETTLEMENT OF BULO-BULO SITE IN SINJAI REGENCY https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/717 <p><em>The Bulo-Bulo Kingdom in Sinjai Regency is part of an alliance of three kingdoms called Tellu Limpoe including the Tondong, Lamatti and Bulo-Bulo Kingdoms. Archaeological remains of the Bulo-Bulo Kingdom are stone wells, mortars, dakon stones, pottery fragments, as well as porcelain and stoneware fragments, those can be found at the Bulo-Bulo Site, in the Area of Benteng, Alewanuae District, Sinjai Regency. This study aims to describe the history and the spatial arrangement of settlements, and also the factors that support the formation of residential areas in Situ Bulo-Bulo. Based on the results of surveys, interviews, literature studies and the approach of ecological and historical determinants used, it is known that the factors that influence the formation of settlements in Bulo-Bulo are the carrying capacity of the environment, religious, and political factors. The Bulo-Bulo site can be divided into several activity spaces: residential, religious, and agricultural.</em></p> <p> </p> <p> </p> <p><em>Kerajaan Bulo-Bulo di Kabupaten Sinjai merupakan bagian dari persekutuan tiga kerajaan yang di sebut Tellu Limpoe meliputi Kerajaan Tondong, Lamatti dan Bulo-Bulo. Peninggalan arkeologis dari Kerajaan Bulo-Bulo berupa sebaran sumur batu, lumpang, batu dakon, fragmen tembikar, serta fragmen porselin dan stoneware, dapat kita temukan di Situs Bulo-Bulo, lingkungan Benteng, Kecamatan Alewanuae, Kabupaten Sinjai. Penelitian ini bertujuan menggambarkan latar historis, pengaturan ruang pemukiman beserta faktor- faktor yang mendukung terbentuknya wilayah pemukiman di Situ Bulo-Bulo. Berdasarkan hasil survei, wawancara, studi literatur serta pendekatan determinan ekologi dan historis yang digunakan diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pemukiman di Bulo-Bulo yaitu adanya daya dukung lingkungan, faktor religi dan politik. Situs Bulo-Bulo dapat dibagi ke dalam beberapa ruang aktivitas yaitu ruang hunian, ruang religi, dan ruang pertanian.</em></p> Hasliana, Muhammad Ikram, Muh. Awal Ramadhan, Masdar Rafiuddin, Khairun Al Anshari, Reski Wike Astria Copyright (c) 2022 WALENNAE: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://walennae.kemdikbud.go.id/index.php/walennae/article/view/717 Fri, 25 Nov 2022 00:00:00 +0000